Posted by: titienimawati | July 2, 2009

Efek Dari Kehilangan Gigi

gigi

Ada ungkapan lebih baik sakit hati daripada sakit gigi, apalagi saat kita sendiri yang mengalaminya. Selain akan mempengaruhi kegiatan rutin kita sehari-hari, tentunya akan ada dampak-dampak lain, seperti ingin marah, geram, kesal terhadap orang lain, meskipun mereka sendiri tidak bermaksud berbuta kesalahan terhadap kita. Maka jangan anggap remeh sakit gigi tersebut.

Demikian halnya apabila kita kehilangan gigi-gigi anterior, tentunya kita akan segera minta dibuatkan gigi penggantinya ke dokter gigi langganan kita agar penampilan kita tampak selalu menarik seperti semula. Nah, bahkan kehilangan gigi anterior dapat menimbulkan efek psikologis pada penderitanya karena secara estetika dapat mengganggu dan dapat mengurangi rasa percaya diri kita. Lain halnya apabila kita kehilangan gigi-gigi posterior, karena pada sebagian orang masih dapat mentoleransinya dengan menunda kunjungannya ke dokter gigi langganan mereka selama belum menimbulkan keluhan.

Namun sayangnya hingga sekarang masih banyak anggapan bahwa kehilangan gigi susu secara dini merupakan hal yang tidak perlu dirisaukan, karena pada akhirnya gigi susu juga akan tanggal dengan sendirinya. Ternyata anggapan ini tidak selalu benar, karena dengan kehilangan gigi susu anterior, kemungkinan besar anak-anak akan menjadi bahan ejekan teman-temannya karena mempunyai gigi yang ompong. Padahal anak-anak  pun ingin senantiasa tampil menarik dan cantik. Hal ini tentunya akan mempengaruhi segi kejiwaan bagi si anak tersebut secara tak langsung.

Kehilangan gigi susu yang diakibatkan oleh suatu proses kerusakan dan disertai dengan rasa sakit, tentunya merupakan suatu pengalaman yang tidak menyenangkan bagi si anak. Biasanya orang tua akan segera mengajak anaknya ke dokter gigi apabila keadaan sudah seperti itu. Umumnya anak-anak pun merasa takut untuk memeriksakan giginya ke dokter gigi.

Gigi susu posterior berfungsi sebagai penahan ruangan bagi gigi permanen yang akan tumbuh. Pada umumnya gigi geraham permanen pertama akan tumbuh tepat dibelakang gigi susu posterior terakhir sekitar umur 6 tahun, dan apabila gigi susu posterior ini tanggal sebelum waktunya, tentunya akan mempengaruhi posisi dari gigi geraham permanen pertama yang akan tumbuh.

Gigi geraham permanen pertama tersebut akan tumbuh menyimpang dari posisi yang normal, yaitu tumbuh terlalu ke depan dan akan menyisakan sedikit ruangan bagi gigi permanen lainnya yang seharusnya tumbuh didepan gigi geraham permanen pertama, sehingga kemungkinan gigi akan tumbuh secara tumpang tindih dibagian anterior. Akibatnya susunan gigi tampak kurang menarik dan sulit dibersihkan. Walaupun hal ini tidak selalu terjadi, namun alangkah baiknya apabila kita dapat mempertahankan gigi susu sampai waktunya untuk tanggal secara normal.

Nah, sekarang bagaimana halnya dengan kehilangan gigi permanen? Kehilangan gigi permanen akan mengakibatkan gigi didekatnya bergeser atau tumbuh miring ke arah ruang kosong, sehingga mengakibatkan terbentuknya celah antara gigi yang bergeser tadi dengan gigi tetangganya. Hal ini memungkinkan makanan dapat tertimbun kedalam celah tersebut sehingga menimbulkan hal yang tidak menguntungkan pada gusi disekitarnya. Pada beberapa kasus, posisi gigi yang berubah dapat menyebabkan pola menggigit berubah. Disamping itu gigi-gigi dari rahang berlawanan akan modot mengisi ruang kosong tersebut dan akan membatasi pergerakan mengunyah. Kehilangan sebagian maupun seluruh gigi posterior akan mempengaruhi proses mengunyah, dimana dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan fungsional dari system pengunyahan.

Namun kejadian kehilangan beberapa gigi tidak akan selalu menjadi hal yang menakutkan bagi kita. Misalnya pada orang yang memerlukan perawatan meratakan gigi, maka terkadang dokter gigi melakukan pencabutan pada gigi yang cukup sehat dengan tujuan untuk mendapatkan ruang dalam memperbaiki posisi dari gigi-gigi anterior yang saling menumpuk tersebut. Contoh yang lain misalnya pada gigi geraham permanen ketiga yang posisi tumbuhnya miring oleh karena tidak cukup ruangan, terkadang perlu dilakukan pencabutan sebelum menimbulkan keluhan.

Mengingat efek negative dari kehilangan gigi, maka lebih baik kita mencegah terjadinya kehilangan gigi tersebut dengan cara mempertahankan gigi asli yang ada selama gigi tersebut masih memungkinkan untuk dilakukan perawatan. Kalaupun gigi terpaksa harus dicabut juga, sebaiknya segera dilakukan perawatan lanjutan dengan dibuatkan gigi palsu atau gigi tiruan (gigi tiru lepasan maupun gigi tiruan cekat).

Disinilah dokter gigi memiliki peranan yang cukup penting, karena dokter gigilah yang mendiagnosis secara tepat, serta memberikan saran-saran terbaik kepada kita. Apakah gigi kita masih dapat dipertahankan atau memerlukan perawatan, segeralah berkonsultasi ke dokter gigi sebelum terlambat. ( Sumber; Majalah BCA Prioritas )


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: